sumber gambar: pepnews.com
Sepuluh
tahun terakhir, media telah menggunakan AI
(Artificial Intelligence) untuk menulis berita atau dikenal dengan
jurnalisme robot. Jurnalisme robot merupakan salah satu jenis dari Computer-Assisted Reporting (CAR) tingkat
lanjut yang menggunakan Artificial
Intelligence (AI). Kombinasi teknologi dan manusia yang saling berinteraksi
untuk membuat artikel berita tersebut telah diaplikasikan di beberapa
perusahaan-perusahaan media di dunia. Kecerdasan buatan
tersebut menawarkan kecepatan dan ketepatan serta berpotensi mendukung realitas
ruang yang lebih kecil dan tekanan waktu bagi para jurnalis. Jurnalis robot
dapat menyampaikan dan memperbaharui berita lebih cepat serta memungkinkan
wartawan untuk berkonsentrasi pada tugas lainnya.
Perusahaan
media Indonesia yang pertama mengaplikasikan teknologi jurnalis robot adalah
Beritagar.id, dengan Robotorial yang mulai perdana pada 25 Februari 2018 dengan
menulis artikel tentang laporan pertandingan Liga Inggris antara Leicester VS
Stoke City. Beritagar.id membuat produk mesin pada pekerjaan jurnalisme dengan
melakukan proses produksi berita dibantu oleh teknologi berbasis Machine Learning (ML) untuk pengenalan
pola serta pembelajaran oleh AI, yang
kemedian teknologi berbasis Natural
Language Processing (NLP) berhubungan dengan kecerdasan buatan dan bahasa computer.
sumber gambar: beritagar.id
Dengan
adanya robot jurnalis, muncul pertanyaan apakah dapat menggantikan peran
jurnalis? Jawaban saya adalah tidak. Karena, bagaimanapun canggihnya jurnalis
robot, akan selalu dibutuhkan orang-orang di belakangnya untuk memrogramnya, seperti programmer, jurnalis, peneliti, dan
sebagainya. Peran jurnalis tidak akan serta merta hilang hanya karena munculnya
robot jurnalis. Menurut COO Beritagar.id, Didi Nugrahadi, robot jurnalis hanya
dapat menuliskan artikel berita yang bersifat repetitif, dengan variabel yang
tetap seperti bencana alam. Namun, masih banyak pekerjaan jurnalis yang tidak
bisa dilakukan oleh mesin, seperti wawancara dan menulis opini.
Justru
adanya robot jurnalis, akan sedikit meringankan beban jurnalis. Dengan banyaknya
tuntutan pekerjaan jurnalis, apalagi
jurnalis di perusahaan yang telah mengaplikasikan newsroom 3.0, akan terbantu dengan adanya robot jurnalis. Beberapa pekerjaan
jurnalis dapat dibantu oleh robot jurnalis, sehingga dapat menghemat waktu bagi
jurnalis untuk menyusun artikel ataupun investigasi laporan panjang yang
lengkap.
Seberapapun
canggihnya mesin ketika menulis berita, kesalahan berita masih mungkin terjadi.
Seperti yang terjadi pada LA Times,
robot penulis berita peringatan gempa, Quakebot,
erilis informasi keliru karena kesalahan data yang dirilis pegawai Badan
Geologi Nasional AS (USGS). Robot selalu
membutuhkan manusia yang mengoperasikannya dan mengawasinya. Menurut saya,
robot masih belum bisa menggantikan peran jurnalis. Robot hanya bisa membantu
meringankan, namun tidak bisa menggantikan. Kecuali jika terdapat temuan robot
yang semakin pintar dan mampu untuk melakukan berbagai kegiatan jurnalis
seperti memberikan opini, melakukan wawancara, memverifikasi berita, dan
sebagainya.
Sumber:
AFP.
2019. “’Robot Jurnalis’ Mengubah Cara Kerja di Perusahaan Media” dalam https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190310125557-185-375922/robot-jurnalis-mengubah-cara-kerja-di-perusahaan-media
diakses pada 20 Mei 2019 pukul 22:13 WIB
Oktika,
Sri Amran, Irwansyah. 2018. “Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id.
Jurnal KOMINFO, Vol. 20 No. 2
Prasetya.
2018. “Peran Manusia Tidak Sepenuhnya Terganti Oleh Robotic Journalism” dalam https://prasetya.ub.ac.id/berita/Peran-Manusia-Tidak-Sepenuhnya-Terganti-oleh-Robotic-Journalism-22312-id.pdf
diakses pada 20 Mei 2019 pukul
Putranto,
Algooth. “Praktik Jurnalisme Robot, Senjakala Jurnalis?” dalam http://www.remotivi.or.id/amatan/481/Praktik-Jurnalisme-Robot,-Senjakala-Jurnalis?
Diakses pada 20 Mei 2019 pukul 22:30 WIB
Youtube.com/DailySocialTV

