Thursday, December 31, 2020

2020



"Kan, ada tuh tulisan Kampus Merdeka di portal mahasiswa. Supaya mahasiswanya merdeka, katanya. Gimana perasaan kalian udah dimerdekakan sama Kemendikbud?”

Pagi itu, hari minggu awal bulan Desember, masih pukul tujuh, salah satu dosen di kampus saya melemparkan pertanyaan tersebut di depan saya dan teman-teman. Sekitar saya ramai dengan jawaban-jawaban bagaimana perasaan menjadi seorang mahasiswa yang katanya dimerdekakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Semuanya bersahutan menjawab bagaimana rumitnya kegiatan Kampus Merdeka, saling melemparkan argumen-argumen pro dan kontranya.

“Kalian sudah merdeka belum?”, dosen saya memotong suara ramai yang ada di sekitar saya. Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada lagi yang mengeluh bagaimana beratnya kuliah daring selama berbulan-bulan, bagaimana rasanya bisa masuk kelas dan mengikuti mata kuliah dari program studi lain. Semuanya diam dengan pertanyaan lanjutan dari dosen saya.

“Ada yang masih suka kebawa sama kelakuan pacarnya? Yang nggak bisa memutuskan ini-itu dan yang harus melakukan ini-itu hanya karena pacarnya?”, dosen saya kembali melanjutkan ucapannya.

“Lebih dari apa yang sudah kalian katakan tadi, merdeka itu bukan hanya tentang belajar di kelas, bukan hanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan kampus kalian. Kalian, diri kalian sendiri, sudah merdeka belum? Kalian sudah bisa menjaga diri kalian belum? Sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri kalian belum? Sudah bisa bertanggung jawab atas apapun yang kalian lakukan?”

“Self control.” Saya sedikit menggumam ketika mengucapkannya dan masih didengar oleh dosen saya.

“Ya, self control. Kalian sudah punya itu?” entah pertanyaan ke berapa dari dosen saya pagi itu. Suasana masih sunyi, sekitar saya masih belum ada yang bersuara.

Hingga akhirnya minggu pagi awal Desember 2020 berakhir dengan diskusi –tapi lebih banyak dosen saya yang banyak bercerita, deng dan ngasih banyak advice untuk kami.  Hari itu membuat saya me-recall ingatan sata tentang apa yang terjadi di tahun 2020. 



Awal tahun 2020, sudah beberapa kali berwara-wiri­ di media sosial mengenai virus baru, asing, dan berbahaya yang ditemukan di China. Saya, kami warga Indonesia waktu itu masih belum terlalu memedulikan berita tersebut. Weekdays saya masih bolak-balik ke kantor setiap hari untuk magang, mempersiapkan acara besar yang akan dilaksanakan bulan depan. Hampir setiap weekend saya masih menyempatkan waktu menyetir ke luar kota, berhimpit-himpitan dengan banyak orang, bernyanyi keras-keras di antara ratusan bahkan ribuan orang yang datang ke gigs penyanyi favorit saya.

Awal bulan ke-tiga, seketika semuanya berubah. Tidak ada lagi kegiatan di luar rumah, kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan banyak orang dilarang, mobilitas dibatasi, semuanya harus di rumah. Nggak boleh keluar kalau nggak ada urgensi. Nggak ada pernah kepikiran bakal ada di situasi kayak gini selama berbulan-bulan sepanjang tahun 2020.

Sudah kurang lebih sembilan bulan saya terkungkung di rumah, dibatasi mobilitasnya, dikurangi ruang geraknya, diubah aktivitas sehari-harinya. Saya menjadi lebih banyak memikirkan hal-hal yang mungkin selama ini jarang saya pikirkan. Tiga-empat bulan pertama sejak dikeluarkan kebijakan tentang belajar dari rumah, saya merasa stressed out. Karantina mandiri membuat semuanya serba virtual, namun tetap nggak bisa menggantikan pertemuan tatap muka. Terkurung berminggu-minggu bersama hal-hal yang saya hindari karena membuat tidak nyaman dan takut, semakin memperburuk kondisi saya pada masa awal karantina mandiri. Kuliah berantakan, hubungan saya dengan orang-orang di sekitar saya menjadi buruk dan keadaan di luar pun sama buruknya. I felt like everything getting worse that time. I always think why why and why. I almost cant handle myself.

Semua hal yang membuat saya takut dan cemas pada saat itu adalah di luar kendali saya. Saya nggak bisa mengendalikan hal-hal tersebut, tapi saya bisa mengendalikan diri saya dalam merespons hal-hal tersebut. Sedikit demi sedikit saya belajar untuk menerima dan mengenali diri saya sendiri ketika merespons kejadian kecil maupun besar di dalam hidup. Saya berusaha untuk lebih fokus terhadap apa yang bisa saya kendalikan daripada apa yang ada di luar kendali saya. Salah satu hal di 2020 yang saya syukuri adalah ini. Bisa belajar sedikit menerima dan mengendalikan diri sendiri. Kalau saya nggak dikurung berbulan-bulan di rumah, mungkin saya masih sering menanyakan bertanya “kenapa” atas apapun yang terjadi di hidup saya.

Ada hal baik yang terjadi di tahun 2020 di hidup saya. Banyak hal yang sebelumnya enggak kepikirkan, tapi jadi dipikirin dan beberapa terealisasikan selama pandemi ini. Masih bisa nonton tayangan favorit saya, masih punya keluarga yang lengkap, masih punya orang-orang terdekat yang bisa mengerti dan menemani saya, masih bisa belajar tentang banyak hal, dan tidak kebingungan besok mau makan apa, mau tinggal di mana, pakai baju apa. And yes, I survived this year. Saya belajar banyak, banyak sekali dan merasa menjadi pribadi yang lebih baik dari pada saya ketika 31 Desember 2019.

Mungkin selama kurang lebih sembilan bulan ini, things didn’t getting better, altho we’re bloody and broken but I feel we’re getting stronger. We are still here and will get stronger tomorrow, the day after tomorrow, and so on.

 


 

Tmi, but I listened to this playlist while write this

https://open.spotify.com/playlist/3XfhhQE0QSNL4vTt0iUa7V?si=8g-iTYRiSbG_0olTWZO0pQ

No comments:

Post a Comment

2020

"Kan, ada tuh tulisan Kampus Merdeka di portal mahasiswa. Supaya mahasiswanya merdeka, katanya. Gimana perasaan kalian udah dimerdekaka...