Thursday, December 31, 2020

2020



"Kan, ada tuh tulisan Kampus Merdeka di portal mahasiswa. Supaya mahasiswanya merdeka, katanya. Gimana perasaan kalian udah dimerdekakan sama Kemendikbud?”

Pagi itu, hari minggu awal bulan Desember, masih pukul tujuh, salah satu dosen di kampus saya melemparkan pertanyaan tersebut di depan saya dan teman-teman. Sekitar saya ramai dengan jawaban-jawaban bagaimana perasaan menjadi seorang mahasiswa yang katanya dimerdekakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Semuanya bersahutan menjawab bagaimana rumitnya kegiatan Kampus Merdeka, saling melemparkan argumen-argumen pro dan kontranya.

“Kalian sudah merdeka belum?”, dosen saya memotong suara ramai yang ada di sekitar saya. Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada lagi yang mengeluh bagaimana beratnya kuliah daring selama berbulan-bulan, bagaimana rasanya bisa masuk kelas dan mengikuti mata kuliah dari program studi lain. Semuanya diam dengan pertanyaan lanjutan dari dosen saya.

“Ada yang masih suka kebawa sama kelakuan pacarnya? Yang nggak bisa memutuskan ini-itu dan yang harus melakukan ini-itu hanya karena pacarnya?”, dosen saya kembali melanjutkan ucapannya.

“Lebih dari apa yang sudah kalian katakan tadi, merdeka itu bukan hanya tentang belajar di kelas, bukan hanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan kampus kalian. Kalian, diri kalian sendiri, sudah merdeka belum? Kalian sudah bisa menjaga diri kalian belum? Sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri kalian belum? Sudah bisa bertanggung jawab atas apapun yang kalian lakukan?”

“Self control.” Saya sedikit menggumam ketika mengucapkannya dan masih didengar oleh dosen saya.

“Ya, self control. Kalian sudah punya itu?” entah pertanyaan ke berapa dari dosen saya pagi itu. Suasana masih sunyi, sekitar saya masih belum ada yang bersuara.

Hingga akhirnya minggu pagi awal Desember 2020 berakhir dengan diskusi –tapi lebih banyak dosen saya yang banyak bercerita, deng dan ngasih banyak advice untuk kami.  Hari itu membuat saya me-recall ingatan sata tentang apa yang terjadi di tahun 2020. 



Awal tahun 2020, sudah beberapa kali berwara-wiri­ di media sosial mengenai virus baru, asing, dan berbahaya yang ditemukan di China. Saya, kami warga Indonesia waktu itu masih belum terlalu memedulikan berita tersebut. Weekdays saya masih bolak-balik ke kantor setiap hari untuk magang, mempersiapkan acara besar yang akan dilaksanakan bulan depan. Hampir setiap weekend saya masih menyempatkan waktu menyetir ke luar kota, berhimpit-himpitan dengan banyak orang, bernyanyi keras-keras di antara ratusan bahkan ribuan orang yang datang ke gigs penyanyi favorit saya.

Awal bulan ke-tiga, seketika semuanya berubah. Tidak ada lagi kegiatan di luar rumah, kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan banyak orang dilarang, mobilitas dibatasi, semuanya harus di rumah. Nggak boleh keluar kalau nggak ada urgensi. Nggak ada pernah kepikiran bakal ada di situasi kayak gini selama berbulan-bulan sepanjang tahun 2020.

Sudah kurang lebih sembilan bulan saya terkungkung di rumah, dibatasi mobilitasnya, dikurangi ruang geraknya, diubah aktivitas sehari-harinya. Saya menjadi lebih banyak memikirkan hal-hal yang mungkin selama ini jarang saya pikirkan. Tiga-empat bulan pertama sejak dikeluarkan kebijakan tentang belajar dari rumah, saya merasa stressed out. Karantina mandiri membuat semuanya serba virtual, namun tetap nggak bisa menggantikan pertemuan tatap muka. Terkurung berminggu-minggu bersama hal-hal yang saya hindari karena membuat tidak nyaman dan takut, semakin memperburuk kondisi saya pada masa awal karantina mandiri. Kuliah berantakan, hubungan saya dengan orang-orang di sekitar saya menjadi buruk dan keadaan di luar pun sama buruknya. I felt like everything getting worse that time. I always think why why and why. I almost cant handle myself.

Semua hal yang membuat saya takut dan cemas pada saat itu adalah di luar kendali saya. Saya nggak bisa mengendalikan hal-hal tersebut, tapi saya bisa mengendalikan diri saya dalam merespons hal-hal tersebut. Sedikit demi sedikit saya belajar untuk menerima dan mengenali diri saya sendiri ketika merespons kejadian kecil maupun besar di dalam hidup. Saya berusaha untuk lebih fokus terhadap apa yang bisa saya kendalikan daripada apa yang ada di luar kendali saya. Salah satu hal di 2020 yang saya syukuri adalah ini. Bisa belajar sedikit menerima dan mengendalikan diri sendiri. Kalau saya nggak dikurung berbulan-bulan di rumah, mungkin saya masih sering menanyakan bertanya “kenapa” atas apapun yang terjadi di hidup saya.

Ada hal baik yang terjadi di tahun 2020 di hidup saya. Banyak hal yang sebelumnya enggak kepikirkan, tapi jadi dipikirin dan beberapa terealisasikan selama pandemi ini. Masih bisa nonton tayangan favorit saya, masih punya keluarga yang lengkap, masih punya orang-orang terdekat yang bisa mengerti dan menemani saya, masih bisa belajar tentang banyak hal, dan tidak kebingungan besok mau makan apa, mau tinggal di mana, pakai baju apa. And yes, I survived this year. Saya belajar banyak, banyak sekali dan merasa menjadi pribadi yang lebih baik dari pada saya ketika 31 Desember 2019.

Mungkin selama kurang lebih sembilan bulan ini, things didn’t getting better, altho we’re bloody and broken but I feel we’re getting stronger. We are still here and will get stronger tomorrow, the day after tomorrow, and so on.

 


 

Tmi, but I listened to this playlist while write this

https://open.spotify.com/playlist/3XfhhQE0QSNL4vTt0iUa7V?si=8g-iTYRiSbG_0olTWZO0pQ

Wednesday, December 30, 2020

Surat Tentang Indah Ayu dan Musik



Awal mula saya berkenalan dengan Musik adalah ketika sedang merasakan kekosongan jiwa. Saat saya bingung dengan apa yang saya rasakan. Saya merasa kosong dan sendirian di tengah keramaian. Saya mempunyai banyak keluarga, namun tidak dapat merasakan kehadiran mereka. Saya memiliki banyak teman, namun tidak dapat merasakan apa itu pertemanan. Ketika sedang duduk sambil melamun, sekilas terdengar lantunan nada beserta kalimat “sshhh.... here… here… you are safe here. You are safe with me, I wont judge you.” Pada saat itu, saya merasakan kehangatan ketika mendengar kalimat tersebut membisiki saya dibalik suara khas seorang Ariel Peterpan yang sedang menyenandungkan lagu Semua Tentang Kita. Saya merasa seperti sedang dipeluk dengan hangat dan diberikan penghiburan untuk kondisi saya pada saat itu.

Sejak saat itu, saya berkenalan dengan Musik. Mencari tahu lebih dalam tentang Musik hingga akhirnya jatuh cinta kepada Musik. Saya menyukai bagaimanapun bentuk dari Musik dan apapun yang diberikan Musik. Saya semakin jatuh cinta kepada Musik dan bangkit dari kekosongan jiwa dengan bantuan Musik. Musik yang menemani saya melewati hari-hari kelam saya, memeluk saya dan tidak pernah meninggalkan saya. Perlahan-lahan, saya menjadi pribadi yang lebih baik dan mendapatkan kebahagiaan lain dalam hidup. Musik masih selalu ada di sisi saya. Dia tidak meninggalkan dan sayapun tidak meninggalkannya. Musik ada disamping saya untuk memeluk saya dalam keadaan bahagia ataupun sedih. Dia tidak pernah meninggalkan saya. Dia selalu mengerti apa yang saya rasakan dan selalu membuka lebar lengannya untuk saya.

 

---

Saya bukan orang yang tergila-gila dengan musik atau bahkan mengklaim sebagai seorang music enthusiast, karena bahkan saya tidak bisa memainkan satupun alat musik dan buta dengan nada. Saya hanya menyukai musik, menyukai bagaimana urutan nada dan lantunan suara serta kalimat-kalimat dalam musik dapat membuat orang yang mendengarnya menjadi tenang dan tidak merasa sendirian. Bagi saya, ketulusan seseorang ketika menulis sebuah lagu akan selalu sampai kepada pendengarnya. Musik sudah menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari diri saya. Ketika sedang menghadapi berbagai macam situasi di hidup, musik selalu menjadi pilihan teratas saya untuk “pulang”. Musik ikut tertawa bahagia ketika saya bahagia dan ikut menangis sambil memberikan pelukan hangat ketika saya mengeluarkan air mata kesedihan.

Perasaan tersebut menjadi semakin kuat ketika saya dapat bernyanyi dan melihat secara langsung musik-musik yang biasa saya dengarkan bersama penyanyi aslinya. Perasaan saya menjadi lebih baik setelah (terkadang) menangis sesenggukan di venue acara musik dan bernyanyi keras-keras diantara banyak orang. Saya tidak keberatan menyisikan uang jajan saya untuk membeli tiket gigs penyanyi favorit saya. Saya merasa senang ketika saya menyisihkan waktu saya untuk menyetir selama berjam-jam demi mendengarkan secara angsung lagu-lagu yang selama ini ada di dalam playlist. I found my happiness there, so I feel okay with that. I don’t mind at all.


Magelang, Juli 2020


-------

ps. surat ini dibuat untuk mengikuti give away tiket Pamungkas Flying Solo Tour Semarang 2019.

Monday, June 17, 2019

Filter Bubble

Di era teknologi informasi yang sedang berkembang dengan masifnya, seperti sekarang ini, ternyata menimbulkan beberapa dampak negatif. Salah satunya yaitu filter bubble effect. dalam buku “The Filter Bubble: How The New Personalized Web is Changing What We Read and How We Think”, Eli Pariser menunjukan bagaimana algoritma internet “membentuk” manusia. Pada akhir 2016, sebanyak sekitar 726.000 penduduk Indonesia  mengakses internet lebih dari 6 jam sehari. Dengan durasi lebih dari seperempat hari, akan banyak sekali informasi yang diakses oleh pengguna internet.
Ketika mengakses internet, pernahkan kita memperhatikan bagaimana internet mengetahui hal yang ingin kita cari melalui rekomendasi-rekomendasinya? Rekomendasi tersebut muncul dari data pribadi kita sebagai pengguna internet. Konten-konten yang direkomendasikan kita berasal dari preferensi kita, kepercayaan kita, hal-hal mengenai diri kita, pendapat yang kita setujui, dan berbagai hal yang sesuai dengan diri kita. Kita selalu mendapatkan apa yang biasa kita baca sehar-hari dan informasi yang tidak sesuai dengan kita tidak akan dimunculkan karena dianggap tidak penting. Bukan preferensi kita. Fenomena tersebut bernama filter bubble atau gelembung penyaring yang merupakan penyortiran dan seleksi informasi berdasarkan pertimbangan kecocokan, relevansi, dan preferensi. Filter bubble mengisolasi informasi berdasarkan ketertarikan pengguna internet dan memberikan saran berdasarkan perhitungan asumsi dari ketertarikan tersebut (Lotan, 2014).
Namun hal tersebut justru berbahaya karena pengguna internet hanya terkungkung pada hal-hal yang dipercayai dan diminati saja. Mereka diarahkan kepada konten-konten yang diyakininya secara lebih presisi sehingga konten yang tidak menarik akan filtered out (Lotan, 2014). Konten yang muncul berulang-ulang akan membentuk keyakinan atas substansi konten tersebut sebagai kebenaran, meskipun status keyakinan tersebut masih berada pada titik abu-abu atau bahkan tidak benar.
Pengguna internet berkumpul pada satu gelembung atau preferensi yang sama sehingga menciptakan lingkaran pemahaman yang sama. Filter bubble mampu mengumpulkan pengguna internet sesuai dengan nilai dan suara informasi satu sama lain (Lotan, 2014). Terkadang hal tersebut tidak disadari karena memang kodrat manusia yang cenderung meniru dan berinteraksi secara intensif dengan orang yang memiliki preferensi sama.
Pengumpulan pengguna internet yang memiliki preferensi yang sama akan membuat mereka kebal terhadap informasi yang di luar preferensinya. Mereka hanya akan mempercayai sesuatu dengan sudut pandang mereka dan tidak terbuka dengan pendapat yang tidak sesuai dengan mereka. Sehingga muncul manusia-manusia fanatik yang hanya mencari pembenaran atas pendapat mereka, bukan kebenaran atas pendapat mereka. Masyarakat mempunyai akses wawasan yang luas namun dipaksa memiliki pemikiran yang sempit karena algoritma di internet.
Namun, fanatisme dan penyempitan pemikiran tersebut dapat ditekan apabila pengguna internet tidak hanya mencari informasi melalui internet, tapi juga meningkatkan kemampuan literasi intelejensi dalam memilih informasi. Selain itu, belum ada bukti empiris yang menjamin tentang adanya kekhawatiran atas gelembung filter, karena personalisasi pada situs berita masih dalam tahap awal dan konten yang dipersonalisasi bukan merupakan sumber informasi yang substansioal bagi warga negara.



Sumber:
Faruqi, Ismail. 2017. Filter Bubble EffectI dan Pengaruhnya Terhadap Kemunculan Fanatisme di Indonesia dalam https://medium.com/@wisanggeni/filter-bubble-effect-dan-pengaruhnya-terhadap-kemunculan-fanatisme-di-indonesia-7feeae30c309 diakses pada 17 Juni 2019 pukul 09:10 WIB
Graefe, Andreas. 2016. “Guide to Automated Journalism”. Clumbia Journalism School
Rifasya, Fawwaz. 2018. Echo Chamber dan Filter Bubble Penyebab Polarisasi Mayarakat dalam Media Sosial dalam https://medium.com/@fawwazrifasya/echo-chamber-dan-filter-bubble-penyebab-polarisasi-masyarakat-dalam-media-sosial-6617178c1c74 diakses pada 17 Juni 2019 pukul 09:55 WIB
Trilling, Damian et all. 2016. Should We Worry about Filter Bubbles?”. Internet Policy Review: Jurnal on Internet Regulation. Vol 5

Monday, May 20, 2019

[Minggu 7] Jurnalis Robot


sumber gambar: pepnews.com


Sepuluh tahun terakhir, media telah menggunakan AI (Artificial Intelligence) untuk menulis berita atau dikenal dengan jurnalisme robot. Jurnalisme robot merupakan salah satu jenis dari Computer-Assisted Reporting (CAR) tingkat lanjut yang menggunakan Artificial Intelligence (AI). Kombinasi teknologi dan manusia yang saling berinteraksi untuk membuat artikel berita tersebut telah diaplikasikan di beberapa perusahaan-perusahaan media di dunia. Kecerdasan buatan tersebut menawarkan kecepatan dan ketepatan serta berpotensi mendukung realitas ruang yang lebih kecil dan tekanan waktu bagi para jurnalis. Jurnalis robot dapat menyampaikan dan memperbaharui berita lebih cepat serta memungkinkan wartawan untuk berkonsentrasi pada tugas lainnya.

Perusahaan media Indonesia yang pertama mengaplikasikan teknologi jurnalis robot adalah Beritagar.id, dengan Robotorial yang mulai perdana pada 25 Februari 2018 dengan menulis artikel tentang laporan pertandingan Liga Inggris antara Leicester VS Stoke City. Beritagar.id membuat produk mesin pada pekerjaan jurnalisme dengan melakukan proses produksi berita dibantu oleh teknologi berbasis Machine Learning (ML) untuk pengenalan pola serta pembelajaran oleh AI, yang kemedian teknologi berbasis Natural Language Processing (NLP) berhubungan dengan kecerdasan buatan dan bahasa computer.


sumber gambar: beritagar.id

Dengan adanya robot jurnalis, muncul pertanyaan apakah dapat menggantikan peran jurnalis? Jawaban saya adalah tidak. Karena, bagaimanapun canggihnya jurnalis robot, akan selalu dibutuhkan orang-orang di belakangnya untuk memrogramnya, seperti programmer, jurnalis, peneliti, dan sebagainya. Peran jurnalis tidak akan serta merta hilang hanya karena munculnya robot jurnalis. Menurut COO Beritagar.id, Didi Nugrahadi, robot jurnalis hanya dapat menuliskan artikel berita yang bersifat repetitif, dengan variabel yang tetap seperti bencana alam. Namun, masih banyak pekerjaan jurnalis yang tidak bisa dilakukan oleh mesin, seperti wawancara dan menulis opini.

Justru adanya robot jurnalis, akan sedikit meringankan beban jurnalis. Dengan banyaknya tuntutan  pekerjaan jurnalis, apalagi jurnalis di perusahaan yang telah mengaplikasikan newsroom 3.0, akan terbantu dengan adanya robot jurnalis. Beberapa pekerjaan jurnalis dapat dibantu oleh robot jurnalis, sehingga dapat menghemat waktu bagi jurnalis untuk menyusun artikel ataupun investigasi laporan panjang yang lengkap.

Seberapapun canggihnya mesin ketika menulis berita, kesalahan berita masih mungkin terjadi. Seperti yang terjadi pada LA Times, robot penulis berita peringatan gempa, Quakebot, erilis informasi keliru karena kesalahan data yang dirilis pegawai Badan Geologi Nasional AS (USGS). Robot selalu membutuhkan manusia yang mengoperasikannya dan mengawasinya. Menurut saya, robot masih belum bisa menggantikan peran jurnalis. Robot hanya bisa membantu meringankan, namun tidak bisa menggantikan. Kecuali jika terdapat temuan robot yang semakin pintar dan mampu untuk melakukan berbagai kegiatan jurnalis seperti memberikan opini, melakukan wawancara, memverifikasi berita, dan sebagainya.


Sumber:
AFP. 2019. “’Robot Jurnalis’ Mengubah Cara Kerja di Perusahaan Media” dalam https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190310125557-185-375922/robot-jurnalis-mengubah-cara-kerja-di-perusahaan-media diakses pada 20 Mei 2019 pukul 22:13 WIB
Oktika, Sri Amran, Irwansyah. 2018. “Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id. Jurnal KOMINFO, Vol. 20 No. 2
Prasetya. 2018. “Peran Manusia Tidak Sepenuhnya Terganti Oleh Robotic Journalism” dalam https://prasetya.ub.ac.id/berita/Peran-Manusia-Tidak-Sepenuhnya-Terganti-oleh-Robotic-Journalism-22312-id.pdf diakses pada 20 Mei 2019 pukul
Putranto, Algooth. “Praktik Jurnalisme Robot, Senjakala Jurnalis?” dalam http://www.remotivi.or.id/amatan/481/Praktik-Jurnalisme-Robot,-Senjakala-Jurnalis? Diakses pada 20 Mei 2019 pukul 22:30 WIB
Youtube.com/DailySocialTV 

Saturday, April 13, 2019

[Minggu 6] Dari Keroncong, Pop, Hingga Dangdut, Meriahkan Dies Natalis Universitas Tidar


     Universitas Tidar merayakan Dies Natalisnya yang ke-5 pada 4 April 2019, lalu. Untuk merayakannya, Untidar menyelenggarakan berbagai macam rangkaian kegiatan. Dibuka dengan Sidang Senat Terbuka pada 4 April, kemudian dilanjutkan dengan seminar, lomba bulu tangkis, lomba menyanyi tunggal, lomba membuat company profile dan lainnya.
     Lomba menyanyi tunggal dibuka untuk seluruh civitas akademika Untidar. Dimulai dari mahasiswa, tenaga pendidik, hingga staff karyawan, turut ikut serta dalam lomba menyanyi tersebut. Lomba menyanyi tunggal dilaksanakan di Auditorium Universitas Tidar dan dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu keroncong, pop, dan dangdut. Lomba menyanyi tunggal tersebut diikuti oleh belasan peserta dari civitas akademika Universitas Tidar. 

     Universitas Tidar merayakan Dies Natalisnya yang ke-5 pada 4 April 2019, lalu. Untuk merayakannya, Untidar menyelenggarakan berbagai macam rangkaian kegiatan. Dibuka dengan Sidang Senat Terbuka pada 4 April, kemudian dilanjutkan dengan seminar, lomba bulu tangkis, lomba menyanyi tunggal, lomba membuat company profile dan lainnya.
     Lomba menyanyi tunggal dibuka untuk seluruh civitas akademika Untidar. Dimulai dari mahasiswa, tenaga pendidik, hingga staff karyawan, turut ikut serta dalam lomba menyanyi tersebut. Lomba menyanyi tunggal dilaksanakan di Auditorium Universitas Tidar dan dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu keroncong, pop, dan dangdut. Lomba menyanyi tunggal tersebut diikuti oleh belasan peserta dari civitas akademika Universitas Tidar.

Selamat Ulang Tahun, Universitas Tidar! Semoga menjadi Perguruan Tinggi Negeri yang semakin baik dalam berbagi hal. Like always, take a good care of yourself and people around you! Sampai jumpa di hari baik lainnya!


Sunday, April 7, 2019

[Minggu 5] Random Theme; Kunto Aji dan Mantra Mantra


sumber gambar: wikipedia

Pada pertengahan September 2018 lalu, Kunto Aji merilis album keduanya yang bertajuk Mantra Mantra. Ada beberapa hal yang bisa saya ambil lewat album ini. Lagu pertama yang saya dengar di album Mantra Mantra adalah track pertamanya, yaitu Sulung.
"Cukupkanlah ikatanmu
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu
Yang sebaiknya kau jaga, adalah dirimu sendiri"
Pertama kali mendengarnya, saya merasa tersentuh sekali dengan liriknya. Saya, yang saat itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, merasa tertolong dengan mendengarkan lagu Sulung. Ditambah petikan gitar dari Kunto Aji yang juga sangat menenangkan saya. Dengan lirik lagu yang diulang-ulang, membuat saya memikirkan kata-kata tersebut yang kemudian menyadarkan saya. Saat itu saya merasa terlalu memaksaan keadaan, terlalu mengharapkan keinginan untuk menjadi kenyataan dan itu sangat menyiksa. Karena terlalu menginginkannya, saya menjadi lupa kepada diri saya sendiri. Saya tidak menjaga diri saya dan saya tidak peduli kepada diri sendiri, karena yang selalu ada di otak saya, ya, keinginan itu.
            Saya merasa bahwa apa yang saya lakukan pada saat itu kurang tepat. Tidak seharusnya saya terlalu lama berkubang dalam masalah saya, hingga melupakan diri sendiri. Hal apa pun yang akan menjadi milik saya, pasti akan menjadi milik saya. Dan hal apa pun yang tidak seharusnya milik saya, ya tidak akan menjadi milik saya, sampai kapanpun. Yang harus diperhatikan adalah diri saya sendiri. Bagaimana diri saya bisa menerima hal apapun yang ada di hidup saya, walaupun itu di luar keinginan saya. Bagaimana saya harus baik-baik saja ketika apa yang terjadi pada hidup, diluar ekspektasi saya. Saya harus ikhlas, karena saya tidak bisa mengatur semua hal di dunia ini.
        Selain Sulung, lagu di album Mantra Mantra yang kembali “menolong” saya pada saat itu, adalah Rehat.
"Tenangkan hati  
Semua ini bukan salahmu 
Jangan berhenti 
Yang kau takutkan takkan terjadi 
Yang dicari, hilang 
Yang dikejar, lari 
Yang ditunggu 
Yang diharap 
Biarkanlah semesta bekerja 
Untukmu"
            Setelah merasa “tertampar” dengan Sulung, saya kembali dibuat diam dengan track nomor lima di album tersebut. Saya yang pada saat itu terlalu sering menyalahkan diri saya atas apa yang terjadi, merasa mendapatkan jawaban dari lagu Rehat. Kalimat “semesta yang paling mempunyai kuasa” berputar di pikiran saya pada saat itu. Ditambah lagi, pada menit ke 3:12, Kunto Aji menyisipkan instrumen musik yang sangat menenangkan ketika didengarkan oleh telinga saya. Dan setelah saya mencari tahu, ternyata itu merupakan Solfeggio Frequencies, frekuensi 396 Hz milik Dr. Joseph Pulio, psikolog dari Amerika Serikat, yang menurut penelitian bisa mengeluarkan pikiran negatif untuk menyehatkan mental. Dalam setiap penampilan langsungnya ketika membawakan Rehat, Kunto Aji selalu menyebutnya sebagai sesi terapi pada menit tersebut.
            Selain Sulung dan Rehat, telinga saya kembali eargasm ketika mendengarkan Saudade. Track ke delapan di album Mantra Mantra. Kali ini bukan untuk diri sendiri hal yang saya dapatkan dari Saudade. Sejak pertama kali mendengar dan membaca liriknya, saya selalu terbayang adik-adik saya yang masih kecil di rumah dan juga sahabat-sahabat saya. This song always remind me of them. The lyrics are too deep I can’t stand it.
         Tapi, secara keseluruhan, semua lagu yang ada di Mantra Mantra punya “mantra”nya tersendiri untuk saya. Menurut saya, Mantra Mantra merupakan salah satu album terbaik yang pernah saya dengarkan. Selain menyuguhkan musik yang sangat menenangkan untuk telinga saya, Kunto Aji juga memberi pesan yang banyak lewat liriknya. Dia bercerita banyak tentang mental health, self-love, overthinking, ikhlas, bersyukur, dan doa-doa untuk orang di sekitar. Kunto Aji benar-benar memberi mantra di album ini yang membuat pendengarnya bisa tepat merasakan apa yang ingin disampaikan lewat lagu-lagunya. Sampai sekarang, saya masih merasa “tersihir” ketika mendengarkan Mantra Mantra. Terimakasih sangat banyak untuk Kunto Aji yang telah membuat album seindah dan semenenangkan ini hingga mampu menolong banyak orang.
 Kalau kamu mau, kamu bisa mendengarkan lagunya di https://open.spotify.com/album/6D5TQ2A4KFGuHvFsrnsVfj?si=TTdmChWZTS6Xb2jDcK_8eA atau di kanal YouTube milik Kunto Aji.

        By the way, untuk kalian yang lelah dengan keadaan, lelah dengan pencarian, lelah dengan kenangan, lelah dengan segala tuntutan, lelah dengan apa yang ada di pikiran, terimakasih sudah berjuang sampai sekarang. Selamat hari Minggu! Take a good care of yourself and people around you! Sampa jumpa di hari baik lainnya!

Saturday, March 30, 2019

[Minggu 4] Teater “Aku Diponegoro” Membuka Kegiatan Gerakan Melek Sejarah



Pementasan teater tari "Aku Diponegoro" di Eks Karesidenan Kedu Bakorwil II Kota Magelang, Kamis (28/3/2019) malam

Melek sejarah merupakan keterjagaan dan kesadaran akan sejarah, tidak lupa dan tidak kosong akan sejarah, yang dimanfaatkan untuk bertindak pada masa kini dan masa depan. Gerakan Melek Sejarah (Gemes) digagas berdasarkan permasalahan rendahnya budaya literasi sejarah generasi muda bangsa. Rendahnya budaya literasi sejarah dapat menyebabkan masyarakat, khususnya generasi muda mengalami amnesia sejarah yang kemudian akan berdampak pada menurunnya kesadaran berbangsa.
            Bertempat di Eks Karesidenan Kedu Bakorwil II Kota Magelang pada malam hari Kamis 28 Maret 2019, Gemes dibuka dengan pementasan teater “Aku Diponegoro” yang menarik antusiasme ratusan masyarakat Kota Magelang. Pengunjung dari berbagai kalangan, khususnya para pecinta sejarah mengunjungi kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut.

Pementasan teater tari "Aku Diponegoro" di Pendopo Eks Karesidenan Kedu Bakorwil II Kota Magelang, Kamis (28/3/2019) malam

            Teater “Aku Diponegoro” disutradarai oleh Djarot B. Darsono dan mengambil naskah dari Landung Simatupang, serta tata musik oleh Danis Sugiyanto. Teater tersebut melibatkan 70 penari serta 17 musisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dan 50 pemeran pendukung dari masyarakat Magelang. Penyelenggaraan teater tersebut bertujuan untuk merefleksikan semangat juang Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang berlangsung pasa tahun 1825-1830.
            Pemilihan tempat penyelenggaraan adalah sebagi bentuk pengingat bahwa Eks Karesidenan Kedu merupakan saksi bisu berakhirnya Perang Jawa yang ditandai dengan penangkapan Pangeran Diponegoro 189 tahun lalu. Secara keseluruhan, teater “Aku Diponegoro” mengangkat cerita mengenai kehidupan Pangeran Diponegoro sejak lahir hingga menjadi perjuangannya melawan penjajah Kolonial Belanda. Setting, kostum, musik, hingga tata lampu dikemas secara menarik sehingga membuat penonton seolah sedang berada pada masa kehidupan Pangeran Diponegoro.
         Rangkaian kegiatan Gemes diawali dengan teater “Aku Diponegoro” yang kemudian dilanjutkan dengan pameran lukisan, pameran buku koleksi Direktorat Sejarah Kemendikbud, dan Bedah Literasi yang menghadirkan pennulis Peter Carey, Mikke Susanto, dan Keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro, Ki Roni Sodewo.




Ingat Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jadilah generasi muda Indonesia yang cinta tanah air, cerdas, dan berkarakter luhur. And as always, take a good care of yourself and people around you! Sampai jumpa di hari baik lainnya!

2020

"Kan, ada tuh tulisan Kampus Merdeka di portal mahasiswa. Supaya mahasiswanya merdeka, katanya. Gimana perasaan kalian udah dimerdekaka...