"Kan, ada tuh tulisan Kampus Merdeka di portal
mahasiswa. Supaya mahasiswanya merdeka, katanya. Gimana perasaan kalian udah
dimerdekakan sama Kemendikbud?”
Pagi itu, hari minggu awal bulan Desember, masih
pukul tujuh, salah satu dosen di kampus saya melemparkan pertanyaan tersebut di
depan saya dan teman-teman. Sekitar saya ramai dengan jawaban-jawaban bagaimana
perasaan menjadi seorang mahasiswa yang katanya dimerdekakan oleh Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan. Semuanya bersahutan menjawab bagaimana rumitnya
kegiatan Kampus Merdeka, saling melemparkan argumen-argumen pro dan kontranya.
“Kalian sudah merdeka belum?”, dosen saya memotong suara
ramai yang ada di sekitar saya. Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada lagi
yang mengeluh bagaimana beratnya kuliah daring selama berbulan-bulan, bagaimana
rasanya bisa masuk kelas dan mengikuti mata kuliah dari program studi lain.
Semuanya diam dengan pertanyaan lanjutan dari dosen saya.
“Ada yang masih suka kebawa sama kelakuan pacarnya?
Yang nggak bisa memutuskan ini-itu dan yang harus melakukan ini-itu hanya
karena pacarnya?”, dosen saya kembali melanjutkan ucapannya.
“Lebih dari apa yang sudah kalian katakan tadi,
merdeka itu bukan hanya tentang belajar di kelas, bukan hanya tentang hal-hal
yang berhubungan dengan kampus kalian. Kalian, diri kalian sendiri, sudah
merdeka belum? Kalian sudah bisa menjaga diri kalian belum? Sudah bisa memilah
mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri kalian belum? Sudah bisa
bertanggung jawab atas apapun yang kalian lakukan?”
“Self control.” Saya sedikit menggumam ketika mengucapkannya dan
masih didengar oleh dosen saya.
“Ya, self control. Kalian sudah punya itu?” entah pertanyaan ke berapa dari dosen saya pagi itu. Suasana masih sunyi, sekitar saya masih belum ada yang bersuara.
Hingga akhirnya minggu pagi awal Desember 2020 berakhir dengan diskusi –tapi lebih banyak dosen saya yang banyak bercerita, deng dan ngasih banyak advice untuk kami. Hari itu membuat saya me-recall ingatan sata tentang apa yang terjadi di tahun 2020.
Awal tahun 2020, sudah beberapa kali berwara-wiri
di media sosial mengenai virus baru, asing, dan berbahaya yang ditemukan di
China. Saya, kami warga Indonesia waktu itu masih belum terlalu memedulikan
berita tersebut. Weekdays saya masih
bolak-balik ke kantor setiap hari untuk magang, mempersiapkan acara besar yang
akan dilaksanakan bulan depan. Hampir setiap weekend saya masih menyempatkan waktu menyetir ke luar kota, berhimpit-himpitan
dengan banyak orang, bernyanyi keras-keras di antara ratusan bahkan ribuan
orang yang datang ke gigs penyanyi
favorit saya.
Awal bulan ke-tiga, seketika semuanya berubah. Tidak
ada lagi kegiatan di luar rumah, kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan banyak
orang dilarang, mobilitas dibatasi, semuanya harus di rumah. Nggak boleh keluar
kalau nggak ada urgensi. Nggak ada pernah kepikiran bakal ada di situasi kayak
gini selama berbulan-bulan sepanjang tahun 2020.
Sudah kurang lebih sembilan bulan saya terkungkung
di rumah, dibatasi mobilitasnya, dikurangi ruang geraknya, diubah aktivitas
sehari-harinya. Saya menjadi lebih banyak memikirkan hal-hal yang mungkin
selama ini jarang saya pikirkan. Tiga-empat bulan pertama sejak dikeluarkan
kebijakan tentang belajar dari rumah, saya merasa stressed out. Karantina mandiri membuat semuanya serba virtual,
namun tetap nggak bisa menggantikan pertemuan tatap muka. Terkurung
berminggu-minggu bersama hal-hal yang saya hindari karena membuat tidak nyaman
dan takut, semakin memperburuk kondisi saya pada masa awal karantina mandiri.
Kuliah berantakan, hubungan saya dengan orang-orang di sekitar saya menjadi
buruk dan keadaan di luar pun sama buruknya. I felt like everything getting worse that time. I always think why why
and why. I almost cant handle myself.
Semua hal yang membuat saya takut dan cemas pada
saat itu adalah di luar kendali saya. Saya nggak bisa mengendalikan hal-hal
tersebut, tapi saya bisa mengendalikan diri saya dalam merespons hal-hal
tersebut. Sedikit demi sedikit saya belajar untuk menerima dan mengenali diri saya
sendiri ketika merespons kejadian kecil maupun besar di dalam hidup. Saya
berusaha untuk lebih fokus terhadap apa yang bisa saya kendalikan daripada apa
yang ada di luar kendali saya. Salah satu hal di 2020 yang saya syukuri adalah
ini. Bisa belajar sedikit menerima dan mengendalikan diri sendiri. Kalau saya
nggak dikurung berbulan-bulan di rumah, mungkin saya masih sering menanyakan
bertanya “kenapa” atas apapun yang terjadi di hidup saya.
Ada hal baik yang terjadi di tahun 2020 di hidup
saya. Banyak hal yang sebelumnya enggak kepikirkan, tapi jadi dipikirin dan
beberapa terealisasikan selama pandemi ini. Masih bisa nonton tayangan favorit
saya, masih punya keluarga yang lengkap, masih punya orang-orang terdekat yang
bisa mengerti dan menemani saya, masih bisa belajar tentang banyak hal, dan
tidak kebingungan besok mau makan apa, mau tinggal di mana, pakai baju apa. And yes, I survived this year. Saya
belajar banyak, banyak sekali dan merasa menjadi pribadi yang lebih baik dari
pada saya ketika 31 Desember 2019.
Mungkin selama kurang lebih sembilan bulan ini, things didn’t getting better, altho we’re
bloody and broken but I feel we’re getting stronger. We are still here and
will get stronger tomorrow, the day after tomorrow, and so on.
Tmi, but I
listened to this playlist while write this
https://open.spotify.com/playlist/3XfhhQE0QSNL4vTt0iUa7V?si=8g-iTYRiSbG_0olTWZO0pQ


