Saturday, March 30, 2019

[Minggu 4] Teater “Aku Diponegoro” Membuka Kegiatan Gerakan Melek Sejarah



Pementasan teater tari "Aku Diponegoro" di Eks Karesidenan Kedu Bakorwil II Kota Magelang, Kamis (28/3/2019) malam

Melek sejarah merupakan keterjagaan dan kesadaran akan sejarah, tidak lupa dan tidak kosong akan sejarah, yang dimanfaatkan untuk bertindak pada masa kini dan masa depan. Gerakan Melek Sejarah (Gemes) digagas berdasarkan permasalahan rendahnya budaya literasi sejarah generasi muda bangsa. Rendahnya budaya literasi sejarah dapat menyebabkan masyarakat, khususnya generasi muda mengalami amnesia sejarah yang kemudian akan berdampak pada menurunnya kesadaran berbangsa.
            Bertempat di Eks Karesidenan Kedu Bakorwil II Kota Magelang pada malam hari Kamis 28 Maret 2019, Gemes dibuka dengan pementasan teater “Aku Diponegoro” yang menarik antusiasme ratusan masyarakat Kota Magelang. Pengunjung dari berbagai kalangan, khususnya para pecinta sejarah mengunjungi kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut.

Pementasan teater tari "Aku Diponegoro" di Pendopo Eks Karesidenan Kedu Bakorwil II Kota Magelang, Kamis (28/3/2019) malam

            Teater “Aku Diponegoro” disutradarai oleh Djarot B. Darsono dan mengambil naskah dari Landung Simatupang, serta tata musik oleh Danis Sugiyanto. Teater tersebut melibatkan 70 penari serta 17 musisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dan 50 pemeran pendukung dari masyarakat Magelang. Penyelenggaraan teater tersebut bertujuan untuk merefleksikan semangat juang Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang berlangsung pasa tahun 1825-1830.
            Pemilihan tempat penyelenggaraan adalah sebagi bentuk pengingat bahwa Eks Karesidenan Kedu merupakan saksi bisu berakhirnya Perang Jawa yang ditandai dengan penangkapan Pangeran Diponegoro 189 tahun lalu. Secara keseluruhan, teater “Aku Diponegoro” mengangkat cerita mengenai kehidupan Pangeran Diponegoro sejak lahir hingga menjadi perjuangannya melawan penjajah Kolonial Belanda. Setting, kostum, musik, hingga tata lampu dikemas secara menarik sehingga membuat penonton seolah sedang berada pada masa kehidupan Pangeran Diponegoro.
         Rangkaian kegiatan Gemes diawali dengan teater “Aku Diponegoro” yang kemudian dilanjutkan dengan pameran lukisan, pameran buku koleksi Direktorat Sejarah Kemendikbud, dan Bedah Literasi yang menghadirkan pennulis Peter Carey, Mikke Susanto, dan Keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro, Ki Roni Sodewo.




Ingat Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jadilah generasi muda Indonesia yang cinta tanah air, cerdas, dan berkarakter luhur. And as always, take a good care of yourself and people around you! Sampai jumpa di hari baik lainnya!

No comments:

Post a Comment

2020

"Kan, ada tuh tulisan Kampus Merdeka di portal mahasiswa. Supaya mahasiswanya merdeka, katanya. Gimana perasaan kalian udah dimerdekaka...